Senin, 02 November 2009

"Asam digunung Garam dilaut"


Kondisi nyata keadaan yang dapat kita lihat dari adanya perbedaan yang mungkin tak akan pernah ketemu bila kita merujuk dari arti judul di atas  secara harfiah saja. Asam (asem = bhs. jawa) adalah tumbuhan yang rasanya asam (kecut=bhs jawa) yang banyak terdapat di daerah pedesaan. Sedangkan Garam (uyah = bhs. jawa) adalah berbentuk butiran kristal dari hasil pengupan air laut yang rasanya asin dan terdapat atau sengaja dibuat di daerah pesisir pantai/tambak.
Asam di gunung....
Garam di laut .....
bertemunya di kuali ....
Pas banget syair atau pantun yang dibuat oleh para leluhur kita, yang mencoba menggambarkan dua perbedaan dari unsur yang berbeda yang akhirnya dapat disatukan dalam satu kuali. Yang konon bila mereka benar-benar bersatu akan menambah rasa baru yang berbeda dan nikmat sekali.
Dan apabila salah satunya tak ada atau tak dipakai maka tak terasa /tak lengkap rasa yang idingin kan. Begitu halnya dengan banyaknya perbedaan yang sedang terjadi dalam hal apa saja di dunia ini. Bila perlu adanya upaya saling memadukan kedua perbedaan tersebut maka apa tak mungkin muncul hal yang baru dan mungkin akan menambah kesempurnaannya.
 

"Majikan Kecil Lebih Mulia dari Kuli Besar"

Ungkapan tersebut pantas untuk diangkat di dalam realita kehidupan masyarakat saat ini. Betapa tidak, kondisi kehidupan ekonomi yang kian berat dirasakan bukan saja pada masyarakat lapisan bawah tetapi juga pada masyarakat di lapisan atas.
Terlebih pada masyarakat lapisan bawah, mereka harus berjuang sekuat tenaga untuk dapat melalui lilitan ekonomi yang begitu berat. Naiknya tingkat kebutuhan/biaya hidup, sulitnya memperoleh lapanagan pekerjaan, minimnya upah kerja seakan akan menambah panjang saja deretan angka pengangguran dan kemiskinan dalam masyarakat kita.
Mengingat kondisi seperti itu maka ungkapan "majikan kecil lebih mulia dari kuli besar" sangatlah tepat dalam menyingkapinya. menjadi "majikan kecil" dalam arti kita mampu menjdi orang/pihak yang dapat memperkerjakan dan membiayai pekerjaan kita sendiri. Berwiraswasta itu kata yang tepat kita gunakan. Berwiraswasta berarti kita mampu berkarya dan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang kita miliki (sebagai majikan) walaupun usaha yang akan kita dirikan itu berskala kecil.
Apabila kita semua memiliki dasar berfikir (prinsip) seperti itu maka kita akan lebih mulia dibandingkan  dengan kita harus menjadi 'kuli" atau "karyawan", "babu", "jongos", "abdi" orang/pihak lain. membiayai diri kita sendiri lebih baik dan lebih mulia dibandingkan harus mendapat upah atau diupah orang lain. Setuju !!

Kodrat Manusia Bila Tanpa Staratifikasi


Manusia pada hakekatnya memiliki derajat dan martabat yang sama di mata sang Pencipta Alam Semesta. Tapi mengapa manusia itu sendiri yang mendiskriminasikan satu dengan yang lainnya. Manusia menggolong-golongkan dirinya berdasarkan status dan peranan yang mereka miliki (stratifikasi). Mereka menggolong-golongkan dirinya dengan berdasarkan kekuasaan, kedudukan, jabatan, ilmu, kekayaan dan lain sebagainya yang mereka rasa lebih unggul untuk dimiliki dibandingkan manusia yang ada di bawahnya.
Mereka mengenal banyak golongan dari hasil pendiskriminasian (pengkotak-kotakan) tersebut seperti golongan miskin dan kaya, golongan elit dan jelata, golongan primitif dan modern. Apakah itu sudah menjadi kodrat manusia utnuk saling menindas dan memperbudak golongan yang ada di bawahnya ? Golongan yang kuat menindas golongan yang lemah, golongan elit menindas yang jelata, golongan ahli menindas yang awam, golongan yang mayoritas menindas golongan yang minoritas, bahkan golongan yang lebih modern pasti akan menindas golongan yang masih primitif, dan lain sebagainya.
Apakah diskriminatif dan staratifikasi yang dibuat oleh manusia itu sendiri perlu ada dalam kehidupan sosial manusia? Apakah diskriminasi dan stratifikasi tersebut terlahir secara alamiah sesuai dengan proses perkembangan budaya dan sejarah manusia ? Jawabnya dapat kita tengok dalam sejarah yang telah tertulis dan yang akan ditulis oleh manusia itu sendiri.
Lalu sebagai pertanyaan terakhir. apakah itu semua seirama dengan pengakuan persamaan hak asasi manusia dan demokrasi yang dlam dekade ini diperjuangkan mati-matian oleh umat di seluruh dunia? Lalu apakah pada akhirnya nanti semangat "persamaan akan hak asasi manusia" tersebut akan menyembuhkan kodrat manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama di mata Tuhan dan sekaligus di mata manusia.

Kamis, 29 Oktober 2009

Manusia Slalu Bertanya "apa?"

Bertanya dan selalu bertanya itu menjadi bagian dari keterbatasan kita sebagai manusia. Kita akan selalu bertanya apabila merasa kita tak mampu untuk menjawab suatu masalah. Kosa kata yang digunakan untuk menunjukkan ketidak mampuannya itu banyak ragamnya. Sebagai contoh digunakannya kata : "apa", what ? Menopo (=bhs. jawa). Yang akan selalu menghiasi keseharian kita sebagai manusia dalam berkomunikasi dengan pihak lain.
Maka dari itu tak ada istilah orang "bodoh" bagi semua orang yang berkata "apa". Bila ada banyak pendapat yang langsung memberikan status pada pihak yang menggunakan kata "apa" sebagai orang bodoh maka itu tidaklah pantas dia disebut sebagai manusia yang berbudaya.
Kata "apa" akan selalu melekat pada identitas kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan kemampuan.